06.05.2006
Kerugian Akibat Pencemaran Udara Jakarta Capai Rp 1,8 Trilyun.
Jakarta – Pencemaran udara di Jakarta merusak lingkungan, kesehatan, dan merugikan secara ekonomi. “Kualitas udara di Jakarta semkain menurun setiap tahunnya yang terus membahayakan kesehatan manusia,” kata Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Emisi Sumber Bergerak Kementerian Lingkungan Hidup, Ridwan D. Tamin, saat membuka dialog “Biodiesel: Peluang dan Tantangan”, di Hotel Mandarin Oriental, Kamis (6/10).
Ridwan mengatakan penduduk Jakarta hanya menikmati udara sehat selama 25 hari sedangkan sisanya berada dalam kategori tidak sehat. Menurut Ridwan penyumbang terbesar pencemaran tersebut adalah kendaraan bermotor.
Selain itu Ridwan mengatakan pencemaran udara di Jakarta juga merugikan secara ekonomi. Hasil kajian Bank Dunia menemukan dampak ekonomi akibat pencemaran udara di Jakarta sebesar Rp 1,8 trilyun yang pada 2015 akan mencapai Rp 4,3 trilyun.
Kemacetan yang sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta juga menjadi penyumbang besar pencemaran udara. Selain itu menurut lembaga nonpemerintah bidang lingkungan hidup, Pelangi, kemacetan juga menimbulkan kerugian akibat pemborosan bahan bakar dan kerugian waktu mencapai Rp 12 trilyun.
10:57 Publié dans polusi & pencemaran | Lien permanent | Commentaires (0) | Envoyer cette note
RUU SaTerumbu Karang Indonesia Terancam Rusak Parah
Jakarta – Terumbu karang Indonesia terus terancam kerusakan akibat penangkapan ikan yang merusak dan pemanasan global. “Kerusakan karang akan mengganggu kelestarian lingkungan, serta merugikan sektor ekonomi dan pariwisata,” kata Project Leader Friends of the Reef World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia, Monique Sumampouw, Jumat (7/10).
Monique mengatakan penangkapan ikan yang merusak tersebut dilakukan dengan dengan menggunakan bom dan pemotasan ikan dengan sianida. Perhitungan World Resources Institute selama 20 tahun terakhir, kerugian yang diakibatkan pengeboman ikan sekitar Rp 5,7 triliun per tahun sementara akibat pemotasan ikan dengan sianida mencapai Rp 465 milyar per tahun.
Menurut Monique, penangkapan ikan yang merusak tersebut masih terus terjadi di laut yang jauh dari pengawasan petugas seperti di Biak, Papua. “Tekanan aktivitas destructive fishing yang menyebabkan rusaknya terumbu karang akan menyulitkan daya tahan karang ketika terjadi pemutihan karang,” kata Monique.
Pemutihan karang sendiri terjadi akibat pemanasan global yang menaikan suhu permukaan laut secara drastis. Kenaikan suhu tersebut membuat terumbu karang kehilangan zat pigmen sehingga memutih dan akhirnya mati karena panasnya suhu air juga mematikan alga Zooxanthellae yang menjadi sumber makanan karang.
Menurut Monique, pemutihan terumbu karang sudah ditemui di pantai barat Sumatera. Ia mengatakan jika arus panas terus masuk ke Indonesia tidak mustahil akan terjadi pemutihan karang di daerah lainnya.
Gelombang El Nino pada 1997-1998 pernah mengakibatkan pemutihan karang di pantai timur Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Khusus di Kepulauan Seribu, 90-95 persen terumbu karang yang berada di kedalaman 25 meter mengalamin kematian akibat pemutihan karang tersebut.
Selain oleh pemanasan global, Monique mengatakan naiknya suhu permukaan laut juga bisa diakibatkan oleh meningkatnya aktivitas di pesisir. Aktivitas tersebut, kata dia, bisa berbentuk reklamasi pantai, pembangunan di pantai, dan adanya bandara di pesisir daerah pantai.
Monique mengatakan pemutihan karang harus diperhatikan karena kalau terus terjadi maka akan mematikan pariwisata laut. “Siapa lagi yang mau menyelam di laut Indonesia kalau terumbu karang warnanya putih semua,” kata dia.
Selain merugikan sektor pariwisata, Monique mengatakan pemutihan dan penangkapan ikan yang merusak juga akan merugikan nelayan dan penduduk di pulau-pulau kecil. Menurut Monique matinya terumbu karang akan juga diikuti oleh matinya ikan sehingga hasil tangkapan nelayan semakin berkurang sementara penduduk di pulau-pulau akan kerepotan mencari sumber pangan.
Keanekaragaman hayati biota laut juga akan hilang jika terumbu karang mengalami pemutihan dan mati akibat penangkapan ikan yang merusak. Menurut World Resources Institute (WRI) keanekaragaman hayati terumbu karang Indonesia sangat tinggi.
Data WRI pada 2002 menunjukkan 18 persen jenis terumbu karang dunia ada di Indonesia dan 60 persen terumbu karang keras dunia ada di perairan Indonesia sebelah timur. Keragaman ikan karang dunia, menurut WRI, paling banyak ditemui di Indonesia.
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut, kata Monique, adalah menghentikan penangkapan ikan yang merusak dan aktivitas lainnya yang membuat menurunkan daya tahan karang terhadap proses pemutihan. Selain itu Monique juga menyarankan penyelam atau nelayan yang menemukan karang yang memutih segera melaporkan temuannya agar bisa ditindaklanjuti.
10:50 Publié dans laut | Lien permanent | Commentaires (0) | Envoyer cette note
Impor Bahan Perusak Ozon Dihentikan Akhir 2007
Jakarta – Pemerintah akan menghentikan impor Chlorofluorocarbons (CFC) yang tergolong Bahan Perusak Ozon (BPO) pada akhir tahun 2007. “Ini adalah bagian dari kegiatan penghapusan BPO yang sudah dilakukan sejak tahun 1995,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, Kamis (8/9).
Rachmat menghimbau pihak yang masih menggunakan CFC untuk mempersiapkan diri menghadapi kelangkaan bahan tersebut. Ia juga meminta para pengusaha jasa perbaikan alat pendingin seperti pendingin ruangan dan lemari es yang masih menyediakan CFC-12 untuk memilih bahan alternatif dan teknologi yang tidak merusak ozon.
“Penanganan refrigeran CFC-12 harus dengan baik dan benar pada saat servis peralatan pendingin sehingga bahan tersebut tidak terlepas ke atmosfir,” kata Rachmat.
Kebijakan penghentian impor CFC tersebut, kata Rachmat, merupakan bagian dari pengurangan pemakaian BPO di Indonesia. Menurut Rachmat, sampai akhir 2004 Indonesia tekah berhasil mengurangi penggunaan BPO sebesar 6562 metrik ton.
Upaya pengurangan penggunaan BPO merupakan kewajiban Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Wina dan Protokol Montreal pada 1992. Konvensi Wina merupakan kesepakatan untuk melindungi ozon yang dijabarkan dalam Protokol Montreal mengenai Penghapusan Bahan Perusak Ozon (BPO).
Bantuan hibah di sektor refrigerasi diberikan kepada tiga sub sektor, yaitu servis refrigerasi dengan target penghapusan CFC sebesar 1072 metrik ton, manufakturing dengan target 1141 metrik ton, dan mobile air conditioning sebesar 915 metrik ton. Penghaspusan CFC ini dijadwalkan tercapai akhir tahun 2007.
Namun demikian Rachmat mengakui implementasi program perlindungan lapisan ozon dan penghapusan BPO masih sulit dilakukan karena kebutuhan BPO di sektor Industri masih sangat besar terutama untuk industri mesin pendingin. Beberapa BPO yang saat ini masih digunakan di Indonesia selain bahan refrigerasi CFC adalah foam, aerosol, solvent, methyl bromida, tembakau, dan halon.
Upaya untuk mengelola penggunaan BPO tersebut agar tidak merusak ozon, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan mengembangkan fasilitas Aerosol Filling Center untuk perusahaan aerosol skala kecil dan menengah. Khusus untuk bahan halon, KLH bekerja sama dengan PT garuda Maintenance Facility untuk mengembangkan Bank Halon Indonesia.
Selain itu upaya pengurangan masuknya BPO ke Indonesia juga masih terhalang oleh banyaknya impor ilegal BPO. Menurut Rahmat, impor ilegal itu sulit dikendalikan karena hingga saat ini belum ada peraturan yang dapat menjerat pelakunya secara hukum.
Meski demikian, Rachmat mengatakan pemerintah akan terus berupaya meningkatkan pengawasan impor, perdagangan, dan penggunaan BPO agar target penghapusan dapat tercapai sesuai jadwal yang direncanakan. “Kerjasama serta dukungan dari istansi terkait dan masyarakat luas sangat menentukan keberhasilan memenuhi Konvensi Wina dan Protokol Montreal,” kata dia.
10:50 Publié dans climate | Lien permanent | Commentaires (0) | Envoyer cette note

