06.05.2006
Kepulauan Seribu Resah Karena Sampah
Jakarta - “Teet...teet..teet..” bunyi jaring mengejutkan penumpang speed boat yang hendak bertolak ke Taman Nasional Laut Pulau Seribu di Pulau Kotok Besar. Penumpang yang sebagian besar wartawan dan Pegawai Departemen Kehutanan keheranan karena tiba-tiba saja mesin speed boat mati padahal belum sampai ditempat tujuan. awal agustus llu.
Lampu berwarna merah didekat kemudi kapal terlihat berkedip. “Sabar sebentar ya, baling-balingnya tersangkut sampah,” kata Sidauruk, petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang mendampingi kapten kapal dan anak buahnya tampak tenang-tenang saja dan tidak panik. Seperti sudah terbiasa, mereka langsung mematikan mesin kapal dan membersihkan sampah yang tersangkut di baling-baling. Sekitar 5 menit, speed boat yang baru meninggalkan Pantai Marina Ancol itu terapung-apung di tengah laut. Dikejauhan samar-samar terlihat Pulau Bidadari dan Pulau Air.
Sejak 15 menit meninggalkan Pantai Ancol kearah 320 derajat barat laut, memang sudah terlihat ada 1-2 sampah yang mengapung di laut. Namun pemandangan yang mengejutkan terlihat tidak lama setelah speed boat berjalan kembali.
Ternyata kapal rombongan Departemen Kehutanan ini berlayar tidak jauh dari gugusan sampah apung yang berbentuk garis memanjang sekitar 100 meter dengan lebar tidak kurang dari 1,5 meter. Dalam gugusan sampah itu ada plastik, kotak makan dari gabus, kayu, dan botol-botol air mineral. Sampah-sampah itu terlihat melekat satu sama lain, tidak bercerai berai meski terkena gelombang air laut.
Menurut Kepala Bagian Administrasi Kesejahteraan Masyarakat dan Sumber Daya Kelautan Kepulauan Seribu Blessmiyanda, sampah-sampah yang ditemukan di Teluk Jakarta itu berasal dari pulau-pulau pemukiman di Kepulauan Seribu dan Kota Jakarta. “Banyak sampah yang datang dari sungai-sungai Jakarta, buktinya kami pernah menemukan ada eceng gondok di tengah laut,” katanya.
Blessmiyanda mengatakan, pihaknya cukup kerepotan mengatasi sampah yang mencemari laut di Kepulauan Seribu. Namun demikian, katanya, Pemerintah Kepulauan Seribu cukup beruntung karena sampah-sampah itu tidak sampai masuk ke wilayah taman nasional.
“Ada laut yang dalam yang jadi benteng alami menghalangi sampah, jadi tidak sampai ke taman nasional,” katanya. Sampah sendiri, katanya, hanya sebagian kecil dari pencemaran yang terjadi di Teluk Jakarta khususnya laut di Kepulauan Seribu. Ia mengatakan, laut di Kepulauan Seribu juga sering tercemar oleh tumpahan minyak baik dari kapal tangker maupun kebocoran pipa-pipa minyak yang usianya sudah tua.
Menurut catatan administrasi Kabupaten Khusus Administrasi Kepulauan Seribu, kerugian akibat pencemaran laut pada 2004 mencapai Rp 2 miliar. “Itu baru kerugian yang dialami petani budi daya hasil laut. Belum menghitung kerugian akibat kerusakan yang terjadi,” katanya. Menghadapi masalah ini, Pemerintah Daerah Kepulauan Seribu meminta pemerintah pusat lebih memperhatikan kawasan Kepulauan Seribu. “Kepulauan Seribu adalah aset nasional dan mungkin satu-satunya tempat di dunia dimana taman nasional terdapat di ibukota negara,” kata Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Djono Ramadhan.
10:45 Publié dans polusi & pencemaran | Lien permanent | Commentaires (0) | Envoyer cette note
Dephut Diminta Tidak Izinkan HTI Baru di Papua
JAKARTA - World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia meminta Departemen Kehutanan tidak mengizinkan Chinese Light, sebuah Badan Usaha Milik Negara di Cina, untuk membangun hutan tanaman industri dan industri pulp di Papua. "KIta sangat tidak menganjurkan untuk memberikan izin di daerah yang baru seperti Papua," kata Koordinator Program Restorasi dan Mitigasi Hutan WWF Indonesia, Fitrian Ardiansyah, Sabtu (6/5).
Fitrian mengaku pihaknya terkejut dengan rencana tersebut dan mengkhawatirkan masalah di Sumatera dan Kalimantan terulang di Papua. Ia mencontohkan, di Kalimantan banyak terjadi pembukaan hutan untuk hutan tanaman Industri namun setelah kayu alam dijual ternyata lahan tidak ditanami kembali.
Menurutnya, izin pembukaan HTI sebaiknya diarahkan ke Sumatera dan Kalimantan. Di kedua pulau tersebut, kata dia, masih banyak lahan HTI belum dimanfaatkan secara optimal. WWF mencatat, dari 10 juta hektar lahan HTI yang ada di Indonesia, baru 2 juta hektar saja yang ditanami dengan baik.
Fitrian meragukan pemanfaatan kayu Merbau untuk pulp. Kayu Merbau dikenal sangat keras dan untuk membuatnya menjadi bubur kayu dibutuhkan upaya dan biaya yang lebih tinggi. Kayu Merbau merupakan jenis kayu yang amat mahal harganya di pasaran.
Ia juga meminta Dephut kinerja HPH dan HTI yang sekarang beroperasi di Papua sebelum memberikan izin baru. Fitrian mencatat ada banyak perusahaan kayu di Papua yang kinerjanya tidak ramah lingkungan.
Hutan Papua, kata Fitrian, merupakan hutan yang masih tinggi luasannya sekitar 70 persen hutan masih dalam kondisi yang baik dan mayoritas merupakan kawasan konservasi. Pembukaan hutan Papua, kata dia, selain menimbulkan masalah lingkungan juga bisa menimbulkan masalah sosial karena masyarakat setempat masih bergantung kepada hutan.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kehutanan Malam Sabat Kaban mengatakan bahwa izin bisa tetap diberikan karena ia memperkirakan pembukaan hutan tersebut tidak akan mengganggu keseimbangan lingkungan. "Hutan lestari itu kan bukan berati tidak boleh diambil," ujarnya.
Kaban mengatakan, dari proposal yang disampaikan Chinese Light terlihat kebutuhan kayu mereka tidak akan terjadi penebangan berlebihan. Yang penting, kata dia, adalah tetap menjaga keseimbangan dan tidka melakukan pemotongan berlebihan.
Kaban mengatakan, selama ini maslaah yang terjadi di tempat lain adalah adanya penebangan yang berlebihan tersebut. "(Kalau overcutting) itu yang kita stop," ujar Kaban.
Chinese Light berencana berinvestasi US$ 1 miliar (sekitar Rp 9 triliun) di Papua dan rencananya akan membangun pabrik pengolahan kayu (wood working) dan bubur kertas (pulp) Perusahaan asal negara tirai bambu tersebut juga akan mengembangkan hutan tanaman industri sebagai pemasok bahan baku pabrik pulp. Perusahaan tersebut akan menyuplai kebutuhan sekitar 800 ribu meter kubik kayu merbau Cina untuk keperluan sarana Olimpiade 2008 di Beijing.
10:40 Publié dans hutan | Lien permanent | Commentaires (0) | Envoyer cette note

