06.05.2006

RUU SaTerumbu Karang Indonesia Terancam Rusak Parah

Jakarta – Terumbu karang Indonesia terus terancam kerusakan akibat penangkapan ikan yang merusak dan pemanasan global. “Kerusakan karang akan mengganggu kelestarian lingkungan, serta merugikan sektor ekonomi dan pariwisata,” kata Project Leader Friends of the Reef World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia, Monique Sumampouw, Jumat (7/10).

Monique mengatakan penangkapan ikan yang merusak tersebut dilakukan dengan dengan menggunakan bom dan pemotasan ikan dengan sianida. Perhitungan World Resources Institute selama 20 tahun terakhir, kerugian yang diakibatkan pengeboman ikan sekitar Rp 5,7 triliun per tahun sementara akibat pemotasan ikan dengan sianida mencapai Rp 465 milyar per tahun.

Menurut Monique, penangkapan ikan yang merusak tersebut masih terus terjadi di laut yang jauh dari pengawasan petugas seperti di Biak, Papua. “Tekanan aktivitas destructive fishing yang menyebabkan rusaknya terumbu karang akan menyulitkan daya tahan karang ketika terjadi pemutihan karang,” kata Monique.

Pemutihan karang sendiri terjadi akibat pemanasan global yang menaikan suhu permukaan laut secara drastis. Kenaikan suhu tersebut membuat terumbu karang kehilangan zat pigmen sehingga memutih dan akhirnya mati karena panasnya suhu air juga mematikan alga Zooxanthellae yang menjadi sumber makanan karang.

Menurut Monique, pemutihan terumbu karang sudah ditemui di pantai barat Sumatera. Ia mengatakan jika arus panas terus masuk ke Indonesia tidak mustahil akan terjadi pemutihan karang di daerah lainnya.

Gelombang El Nino pada 1997-1998 pernah mengakibatkan pemutihan karang di pantai timur Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Khusus di Kepulauan Seribu, 90-95 persen terumbu karang yang berada di kedalaman 25 meter mengalamin kematian akibat pemutihan karang tersebut.

Selain oleh pemanasan global, Monique mengatakan naiknya suhu permukaan laut juga bisa diakibatkan oleh meningkatnya aktivitas di pesisir. Aktivitas tersebut, kata dia, bisa berbentuk reklamasi pantai, pembangunan di pantai, dan adanya bandara di pesisir daerah pantai.

Monique mengatakan pemutihan karang harus diperhatikan karena kalau terus terjadi maka akan mematikan pariwisata laut. “Siapa lagi yang mau menyelam di laut Indonesia kalau terumbu karang warnanya putih semua,” kata dia.

Selain merugikan sektor pariwisata, Monique mengatakan pemutihan dan penangkapan ikan yang merusak juga akan merugikan nelayan dan penduduk di pulau-pulau kecil. Menurut Monique matinya terumbu karang akan juga diikuti oleh matinya ikan sehingga hasil tangkapan nelayan semakin berkurang sementara penduduk di pulau-pulau akan kerepotan mencari sumber pangan.

Keanekaragaman hayati biota laut juga akan hilang jika terumbu karang mengalami pemutihan dan mati akibat penangkapan ikan yang merusak. Menurut World Resources Institute (WRI) keanekaragaman hayati terumbu karang Indonesia sangat tinggi.

Data WRI pada 2002 menunjukkan 18 persen jenis terumbu karang dunia ada di Indonesia dan 60 persen terumbu karang keras dunia ada di perairan Indonesia sebelah timur. Keragaman ikan karang dunia, menurut WRI, paling banyak ditemui di Indonesia.

Solusi untuk mengatasi masalah tersebut, kata Monique, adalah menghentikan penangkapan ikan yang merusak dan aktivitas lainnya yang membuat menurunkan daya tahan karang terhadap proses pemutihan. Selain itu Monique juga menyarankan penyelam atau nelayan yang menemukan karang yang memutih segera melaporkan temuannya agar bisa ditindaklanjuti.